Medan hingga Danau Toba – Tips Hemat Liburan Bareng Anak-anak

Pada musim liburan sekolah lalu, akhirnya bisa juga kami berempat menginjakkan kaki di Pulau Samosir, Sumatera Utara. Jalan-jalan ini persis dua bulan setelah perjalanan sebelumnya ke Bali.

Bedanya sama Bali, kawasan wisata Danau Toba sebagai destinasi utama cukup jauh dari airport. Butuh waktu antara 4 hingga 5 jam untuk tiba di kota Parapat, salah tujuan utama wisata di sana.

Itu pula yang membuat saya perlu melakukan “survei” lapangan lebih dulu sebelum traveling bareng anak-anak kali ini. Pada bulan Maret, saya sudah melancong ke desa turis Tuktuk Siadong, sebuah desa yang favorit di kalangan turis asing.

Jika anda mau wisata ke Danau Toba secara mandiri (tanpa jasa travel), sendiri atau rombongan, informasi berikut ini mungkin bisa ikut membantu.

Tiket Murah
Tiket pesawat dari Jakarta, apalagi dari lokasi yang lebih jauh, tidaklah murah. Tetapi ada beberapa airline yang cukup sering menawarkan tiket promo seperti AirAsia dan Citilink.

Sangat beruntung waktu itu saya bisa booking tiket (2 dewasa + 2 anak-anak) Citilink dengan harga Rp.560.000 untuk pergi dan pulang. Murah sekali! Ini adalah rekor tiket paling murah yang pernah kami dapat untuk penerbangan berempat. Padahal kalau diperhatikan rata-rata tiket Jakarta-Medan adalah Rp.500.000 one way/orang.

Sebenarnya, saya sudah sering mengincar tiket promo dari AirAsia untuk tujuan Medan. Karena tidak ada flight dari Jakarta, terpaksa rute yang dipilih dari Bandung. Toh ongkos naik taksi ke SHIA, nama keren Soekarno Hatta International Airport, tidak jauh beda dengan ongkos travel ke Bandung.

Dari beberapa blog yang saya ikuti, cukup banyak traveler yang memanfaatkan promo AirAsia ini. Selain dari Bandung, AirAsia juga terbang ke Medan dari Surabaya.

Dari kota-kota lain, menekan harga tiket ini pilihannya bisa dengan transit di Bandung, Jakarta atau Surabaya. Atau mungkin lebih murah juga kalau mendapatkan tiket promo transitnya di Kualalumpur atau di Singapura. Secara geografis Malaysia memang lebih dekat dan banyak wisatawan dari negara jiran ini berkunjung ke Medan dan Danau Toba.

Transportasi lokal
Setelah tiket pesawat, hal penting lainnya adalah transportasi lokal. Meski tak sebanyak di Jakarta, kita bisa menumpang taxi saat berada di kota Medan.

Selain itu ada becak motor (betor) dan angkot dengan tarif jauh dekat Rp.3000. Sedangkan untuk becak, seperti biasa, pandai-pandailah menawar harga. Tapi, karena bisa muat tiga penumpang, becak motor ini bisa jadi lebih irit dan nyaman karena langsung diantar ke tujuan.

Untuk tujuan Parapat, salah satu tujuan wisata terkenal di kawasan Danau Toba, pilihannya kita bisa naik mobil travel (sewa) atau menggunakan bis umum. Dari beberapa website yang saya amati, tarif sewa Medan-Parapat ini minimal Rp.500.000.

Karena cari yang lebih murah, tentu saja kami memilih bis umum yang ongkosnya cuma Rp.25.000 per orang. Bis ini tersedia di terminal Amplas dan berangkat (kayaknya) setiap jam. Dari bandara Polonia bisa naik angkot 64, jalan keluar ke arah SPBU Petronas dan lurus hingga lampu merah.

Bis dengan rute Medan-Parapat cuma satu, yaitu PO Sejahtera. Kalau beruntung mendapatkan bis yang “agak muda”, dengan ongkos yang sama kita bisa kebagian bis ber-AC.

Kalau bawaan agak banyak dan kelihatan seperti pelancong, kernet bis biasanya akan menyuruh ambil tempat duduk di sebelah kanan. Danau Taba memang ada di sebelah kanan jalan dan kita bisa menyaksikan keindahannya dari ketinggian begitu bis hampir tiba di tujuan akhir.

Pemberhentian bis paling ujung adalah pelabuhan penyeberangan Ajibata, tempat kapal ferry tujuan Pulau Samosir bersandar. Jika kita bawa mobil, bisa ikut penyeberangan ini.

Tapi kalau sekedar bawa badan dan backpack, sebaiknya turun di Tigaraja saja karena di sini ada perahu penyeberangan tujuan Tomok (sama dengan ferry) dan Tuktuk.

Ongkos sekali menyeberang Rp.7.000 untuk tujuan Tuktuk, sedangkan ke Tomok biasanya lebih murah karena hanya mengantar penumpang di satu tempat. Sementara , penumpang tujuan Tuktuk akan diturunkan di dermaga-dermaga kecil yang ada di setiap hotel atau penginapan.

Penginapan
Karena jarak Medan-Danau Toba cukup jauh (sekitar 170 km), kalau bawa anak-anak sebaiknya memang menginap dulu di Medan. Kecuali kalau tiba di Medan pagi-pagi sekali.

Karena kota besar, tentu saja banyak pilihan hotel di kota Medan. Anda bisa mengecek daftar hotel di Medan dan booking kamar secara online lewat Agoda yang kadang memberikan diskon hingga 75% di sini.

Sementara untuk penginapan kelas backpacker banyak tersedia di sekitar Mesjid Raya, Jl Sisingamangaraja. Sebagian ada di samping kanan, sebagian lagi letaknya di seberang jalan (dekat plaza).

Tarif per malam yang ditawarkan mulai dari Rp.60.000. Waktu kunjungan pertama, seorang teman menyarankan untuk menginap di Wisma Yuli, di belakang Yuki Plaza.

Tapi, ternyata ada yang lebih bagus dengan harga yang sama, yaitu Residence Hotel. Selain bangunannya baru, menurut saya penginapan ini recommended karena dilengkapi restoran yang luas, beberapa tv layar besar, makanan serta minuman bervariasi, dan yang tak kalah penting WiFi gratis di area restoran.

Penginapan ini relatif murah, misalnya, untuk sarapan pagi ada menu nasi goreng plus teh manis seharga Rp.10.000 saja. Kalau butuh extra bed, cuma perlu tambahan Rp.20.000, meski nggak semua kamar bisa dengan extra bed karena ukurannya yang terlalu kecil.

Kamar paling mahal harganya Rp.150.000, sudah dilengkapi TV flat 22 inci dan pendingin udara. Meski belum mencobanya, ada juga kamar seharga Rp. 60.000 khusus backpaker.

Waktu itu, kami menginap di Residence Hotel pada malam pertama di Medan dan malam terakhir sebelum pulang ke Jakarta.

Untuk penginapan di Tuktuk, Samosir, pilihan kami jatuh pada Carolina Cottage. Sebenarnya banyak sekali tempat menginap di Tuktuk, tetapi banyak review yang mengarahkan ke sini. Salah satu alasannya, barangkali karena tarif kamarnya cukup murah.

Pada hari biasa, kamar yang menghadap danau (beach front) harganya bervariasi mulai Rp.90.000 hingga Rp.150.000. Berhubung kami datang pada saat peak season harganya jadi lebih mahal.

Kamar di Carolina cukup luas, dengan model bangunan khas Tanah Batak. Karena di sekitar Danau Toba hawanya sudah dingin, jadi kamar nggak menggunakan AC. Sebagian kamar mandi dilengkapi hot water, namun sayangnya tidak ada TV untuk anak-anak membuang bosan pada malam hari.

Dari fasilitas, Carolina punya restoran yang luas dilengkapi free WiFi dan satu TV layar lebar. Meski tidak ada pemanas air di tiap kamar, tapi kita bisa meminta air di restoran dengan termos yang sudah disediakan.

Selain banyak wisatawan lokal dari sekitar Samosir, di Carolina cukup banyak wisatawan asing yang menginap di sini. Di Tuktuk tidak ada ATM, tapi hotel seperti Carolina menerima pembayaran dengan VISA dan Mastercard.

Apa yang bisa dilakukan?
Di kota Medan, selain Mesjid Raya, ada juga Istana Maimun di dekatnya. Sewaktu di sana sebenarnya sedang ada festival keraton nusantara, sayangnya kami harus pergi lebih awal ke Parapat.

Tempat lain yang standar dikunjungi di pusat kota Medan, yaitu Merdeka Walk. Di sini banyak kafe dan restoran cepat saji yang mengelilingi sebuah lapangan. Dengan taman yang tidak terlalu luas, ada juga area bermain anak-anak yang sayangnya kurang terawat.

Bagaimana dengan Danau Toba? Di sana cukup banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Untuk wisata sejarah, kia bisa pergi ke Tomok melihat makam Raja Sidabutar dan Sigale-gale, serta ke Ambarita melihat rumah adat Batak lengkap dengan pasungan dan batu persidangan. Di kedua tempat ini juga bisa belanja souvenir.

Kalau liburan bareng anak-anak, biasanya mereka suka minta berenang. Tetapi di Danau Toba, nyemplungnya nggak ke kolam renang, tapi langsung ke danau. Banyak penginapan memang menyediakan area berenang di pinggir danau yang telah diberi tali pembatas.

Kegiatan lain yang akan disukai anak-anak yaitu memancing ikan kecil-kecil di pinggir danau. Bisa juga menangkap ikannya dengan menggunakan jaring. Kecuali mau serius mancing ke tengah danau, nggak perlu repot membawa alat pancing dari rumah karena di sana banyak yang jual dengan harga murah.

Kalau mau mengeluarkan biaya ekstra, hal menarik lainnya adalah menyusuri sebagian Danau Toba dengan naik speed boat. Biasanya pada pagi hari dan sore, mereka akan datang menawarkan jasanya. Tapi kalau mau rombongan, bisa juga menyewa perahu untuk menyusuri danau.

Di Tuk-Tuk juga ada satu bukit yang mudah dicapai dan banyak ternak digembalakan di sana. Anak-anak pasti suka melihat binatang ternak itu mencari rumput di padang yang luas.

Kalau mau olahraga, kita sebaiknya menyewa sepeda selama di Samosir. Tapi karena jalanannya yang turun-naik perlu stamina yang bagus untuk pergi ke tempat yang agak jauh.

Kuliner
Untuk urusan makan-makan, kota Medan tidak kalah dengan banyak kota lainnya. Kali ini kami hanya sempat mencicipi durian Ucok dan Wajir Sea food. Dan, (ingat!) keduanya buka pada malam hari.

Ceritanya, sebelum pulang kami sempat mampir lagi ke Wajir untuk mencoba menu lain selain udang goreng telor asin yang konon jadi menu andalannya. Dan ternyata tempat makan sea food yang kesohor itu cuma buka kalau hari sudah gelap! Padahal sore itu juga kami sudah harus ke bandara.

Kalau Anda petualang kuliner sebaiknya memang meluangkan banyak waktu untuk mengubek-ubek kota Medan. Di Samosir, terutama bagi muslim seperti kami, sepertinya memang nggak ada yang spesial.

Kenapa ke Danau Toba?
Danau ini merupakan yang terbesar di Indonesia dan konon juga di Asia Tenggara. Jadi kalau pernah melihat setu-setu di Jakarta, pasti terasa sekali bedanya.

Udara di sana sejuk, dikelilingi view gunung, dan air danau di sisi Samosir yang cukup jernih. Bagi pencari ketenangan, tempat ini perlu dimasukkan agenda.

Danau Toba juga tidak terlalu sulit dijangkau dan perjalanan ke sana melewati kota Pematang Siantar cukup ramah anak-anak. Jalanan berkelok-kelok baru selepas kota ini dengan jarak sekitar satu jam perjalanan.

Untuk akomodasi, di sekitar Danau Toba juga banyak pilihan, hanya saja untuk hotel berbintang hanya ada di Parapat. Tapi untuk penginapan murah di pulau Samosir, kalian tidak perlu khawatir karena di sana banyak sekali.

Leave a Reply